Search This Blog

Showing posts with label Another Story. Show all posts
Showing posts with label Another Story. Show all posts

Wednesday, November 27, 2013

Gadis Penjual Korek Api

Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota.
Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api.

"Mau beli korek api?"
"Ibu, belilah korek api ini."

"Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." balas salah seorang pejalan kaki di sana.

Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.
Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, ia akan dipukuli oleh ayahnya.
Maka sang gadis itu pun melanjutkan jualannya.
namun, ketika ia akan menyeberangi jalan.

Grek! Grek!

Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya.

"Hyaaa! Awaaaaas!" teriak sang kusir

Gadis itu melompat karena terkejut.
Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana.
Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan.
Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak laki laki memungut sepatu itu lalu melarikan diri.

"Wah, aku menemukan barang yang bagus." teriak anak tersebut sambil lari

Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki.
Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan.
Sudah tidak bisa dijual lagi.
Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya.

Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya.
 Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah.
Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.

Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat.
Gadis itu meneteskan air mata.

"Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini."

Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah.
Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.
Salju yang dingin terus turun.
Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju.
Perutnya terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak.
Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan.
Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya.

"Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat."

Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.

Crrrss

Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat.

"Oh, hangatnya."

Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas.
Pada saat api itu padaam tungku pemanas pun menghilang.
Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua.
Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.
Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat.

"Wow! Kelihatannya enak."

Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya.
Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang.
Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi.

Crrrs!

Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar.

"Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi."

Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar.

"Wah! Indah sekali!"

Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin.
Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup.
Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.
Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih.

"Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya."

Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati.
Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin lainnya.
Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya.
Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.

"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melompat ke dalam pelukan Nenek.
"Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' "

Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya.

"Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek."

Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam.

"Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."

Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya.
Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl.
Nenek memeluk gadis itu dengan erat.
Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahanlahan.

"Nenek, kita mau pergi ke mana?"
"Ke tempat Tuhan berada." jawab sang nenek

Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit.
Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu,
"Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita."

Gadis itu tertawa senang.
Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju.

"Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini."
"Cepat panggil dokter!"

Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu.
Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata,

"Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah."

Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.

Thursday, October 31, 2013

Legenda Pulau Weh "Naga Sabang dan Dua Raksasa Seulawah"

Pada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit, diselat itu tinggalah seekor naga bernama Sabang, pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru di pimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam di pimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat Adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejam kepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.


Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang kerajaan Alam namun selalu di halangi oleh Naga Sabang, sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai.

Maka pada suatu hari dipanggilah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu di halangi oleh naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru.

“Yang mulia, Naga Sabang adalah penjaga selat Barisan, kalau naga itu mati makan kedua pulau ini akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka.

“Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru.

“Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka.

“Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.
Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.

Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, ” Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam.

“Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga.

“Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan  berguncangan keras dan air laut akan surut,  maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga.

Sultan Alam menitikan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.

Maka pada waktu yang sudah di tentukan terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikn pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang naga.

Kemudian raksasa seulawah Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak,” Weehh!”, sambil melemparkan tubuh naga  itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah  tubuh naga itu jatuh terbujur di laut lepas.

Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, “Sabaaaaang!, sabaaaang!, sabaaang!” panggil Sultan Alam.

“Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, Teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.

Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai.

Tak lama setelah gempa berhenti, air laut surut jauh sekali sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.

Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira di  hantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadi mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.

Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang Adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangu sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.

Saturday, October 5, 2013

Gonbe dan 100 Itik

Di sebuah desa, tinggal seorang ayah dengan anak laki-lakinya yang bernama Gonbe.
Mereka hidup dari berburu itik.
Setiap berburu, ayah Gonbe hanya menembak satu ekor itik saja.

Melihat hal tersebut Gonbe bertanya pada ayahnya,
"Kenapa kita hanya menembak satu ekor saja Yah?",

"Karena kalau kita membunuh semua itik, nanti itik tersebut akan habis dan tidak bisa berkembang biak, selain itu kalau kita membunuh itik sembarangan kita bisa mendapat hukuman.

Beberapa bulan kemudian, ayah Gonbe jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Sejak saat itu, Gonbe berburu itik sendirian dan menjualnya.
Lama kelamaan, Gonbe bosan dengan pekerjaannya, ia mendapatkan sebuah ide.

Keesokan hariya, Gonbe datang ke danau yang sudah menjadi es.
Ia menebarkan makanan yang sangat banyak untuk itik-itik.
Tak berapa lama, itik-itik mulai berdatangan dan memakan makanan yang tersebar.
Karena kekenyangan, mereka tertidur di atas.
Gonbe segera mengikat itik-itik menjadi satu.
Ia mengikat 100 itik sekaligus.
Ketika itik ke seratus akan di ikatnya,
tiba-tiba semua itik-itik tersebut terbangun dan segera terbang.
Gonbe yang takut kehilangan tangkapannya, segera memegang tali yang diikatkannya ke itik tersebut.
Karena banyaknya itik yang diikat, Gonbe terangkat dan terbawa ke atas.

Gonbe terus terbang terbawa melewati awan.
Di awan tersebut Ayah dan anak halilintar sedang tidur dengan nyenyak.

"Dugg!", kaki Gonbe tersandung badan ayah halilintar.
Ayah halilintar terbangun sambil marah-marah, ia segera mengeluarkan halilintarnya yang kemudian menyambar tali-tali yang mengikat itik-itik itu.

Gonbe jatuh ke dalam laut!

Ia jatuh tepat di atas kepala Naga laut yang berada di Kerajaannya.
Naga laut menjadi marah dan mulai memutar-mutar ekornya, lalu memukulkannya ke Gonbe.
Gonbe terbang lagi dari dalam laut.
Akhirnya Gonbe jatuh ke tanah dengan kecepatan tinggi.
Akhirnya Gonbe jatuh ke atap jerami rumah seorang pembuat payung.

"Kamu tidak apa-apa?", Tanya si pembuat payung sambil menolong Gonbe.

"Maaf atap anda jadi rusak. Berilah pekerjaan pada saya untuk mengganti kerugian anda". kata Gonbe

"Kebetulan, aku memang sedang kekurangan tenaga pembantu", kata pembuat payung.

Sejak itu Gonbe menjadi rajin membuat payung.

Suatu hari, ketika sedang mengeringkan payung di halaman, datang angin yang sangat kencang.
Karena takut payungnya terbang, Gonbe segera menangkap payung tersebut.
Tetapi payung tersebut terus naik ke atas bersama Gonbe.
Dengan tangan gemetaran Gonbe terus memegang payung sambil terus terbang dengan payungnya hingga melewati beberapa kota.
Payung tersebut akhirnya robek karena tersangkut menara dan pohon-pohon.
Gonbe pun jatuh.
Untungnya ia jatuh tepat di sebuah danau.
Gonbe merasa lega.
Tidak berapa lama tiba-tiba kepala Gonbe di patuk oleh sekawanan hewan.

"Lho ini kan itik-itik yang aku ikat dengan tali.
Ternyata benar ya, kita tidak boleh serakah menangkap sekaligus banyak."

Akhirnya Gonbe melepaskan tali-tali yang mengikat kaki-kaki itik tersebut dan membiarkan mereka terbang dengan bebas.

Pesan Moral : Kita tidak boleh menjadi orang yang tamak dan serakah serta kikir. Cerita di atas menggambarkan adanya hukuman bagi orang yang tamak serta melanggar ketentuan yang sudah ada.

Wednesday, September 11, 2013

Petualangan Guliver


Dahulu kala di negara Inggris ada seorang dokter muda bernama Guliver.
Ia senang berlayar ke negara yang sangat jauh.
Hingga pada suatu saat, ketika ia berlayar, datang angin topan yang sangat dahsyat.
Semua orang yang naik kapal tersebut terlempar ke laut, termasuk Guliver.

Guliver terus berenang di antara ombak yang bergulung-gulung.
Akhirnya ia terdampar di sebuah pantai.
Ketika ia membuka matanya, tubuhnya telah diikat dengan tali kecil dan banyak prajurit-prajurit kecil yang membawa tombak mengelilinginya.

"Jangan bergerak! Lihatlah keadaanmu!" kata salah 1 prajurit kecil tersebut.
"Hai laki-laki raksasa, siapakah kau sebenarnya ?".

"Namaku Guliver, kapal yang aku naiki tenggelam dan aku terdampar disini."

"Baiklah, kau akan kami bawa ke Istana."

Kemudian prajurit-prajurit kecil mengangkat dan menaikkan Guliver ke atas kendaraan raksasa yang ditarik kuda-kuda kecil.

Setelah tiba di Istana dan tali-tali yang mengikatnya dilepaskan,
Guliver menceritakan kejadian yang menimpa diri dan kapalnya kepada raja.

"Baiklah, kau boleh tinggal disini asal kau berkelakuan baik dan sopan", kata sang Raja.

Setelah itu raja menyuruh pelayannya untuk menyiapkan hidangan untuk Guliver.

"Sebagai rasa hormat saya, saya ingin memberikan hadiah kepada Baginda," kata Guliver sambil mengeluarkan sebuah pistol dan mencoba menembakkannya.

Door!!

Orang-orang di kota tersebut terkejut dan berlarian mendengar suara pistol Guliver.

"Hm.. meriam yang hebat,"kata Raja.



Keesokan harinya, Guliver berjalan berkeliling kota setelah diijinkan oleh Raja.
Guliver merasa sedang berjalan diantara gedung-gedung yang bagaikan mainan.
Guliver semakin akrab dengan penduduk-penduduk di lingkungan Istana.
Guliver memberikan kenang-kenangan berupa sebuah jam kepada mereka.

Suatu hari, Raja datang dengan putrinya untuk berunding.
Raja merasa bingung karena raja negeri tetangga ingin menikah dengan putrinya.
Tetapi putrinya tidak menginginkannya.
Namun, jika permintaan tersebut ditolak, raja negeri seberang mengancam akan datang menyerang.

"Baiklah, aku akan berusaha menolong, Tuanku." kata Guliver

Guliver minta disediakan tali-tali yang diberi kail pada ujungnya.
Ketika ia pergi ke pelabuhan, kapal-kapal musuh sudah berjejer di tengah laut.
Guliver pergi ke arah kapal itu.
Tiba-tiba ia diserang dengan panah-panah kecil yang tidak terasa dibadan Guliver.
Ia hanya menutup matanya dengan tangan agar panah-panah itu tidak mengenai matanya.
 Guliver menarik kapal-kapal musuh ke pelabuhan.

"Hidup Guliver!",
"Hebat! Guliver sangat kuat."

Akhirnya raja negeri tetangga memohon maaf dan berjanji tidak akan berperang lagi dan akan menjalin persahabatan.

Esok harinya, Guliver menemukan perahu yang sudah rusak dan hanyut terombang-ambing ombak.

"Kalau kondisi perahu ini baik, aku mungkin bisa bertemu dengan kapal laut yang akan pulang ke Inggris."

Penduduk negeri itu membantu Guliver memperbaiki perahu.
Berkat usaha dan kerjasama yang baik, dalam sekejap perahu itu sudah bagus kembali.

"Terima kasih banyak atas bantuan kalian semua."

Tibalah hari kepulangan Guliver.
Ia dibekali makanan dan juga sapi-sapi yang dinaikkan ke perahu.

"Baginda, saya telah merepotkan selama tinggal disini dalam waktu yang lama, maafkan saya jika saya banyak kesalahan."

"Hati-hatilah Guliver dan selamat jalan."

Setelah diantar Raja dan segenap penduduk negeri, perahu Guliver berangkat menuju lautan.

"Beberapa hari kemudian, dari arah depan perahu, Guliver melihat kapal laut besar.
Ia segera melambaikan tangannya dan ia pun ditolong oleh kapal itu.
Kebetulan sekali, ternyata kapal itu akan pulang ke Inggris.

"Syukurlah akhirnya aku bisa pulang ke Inggris," ucap Guliver dalam hati.

Orang-orang dikapal merasa kagum dan aneh dengan cerita Guliver dan melihat sapi kecil yang dibawa olehnya.

Friday, August 2, 2013

Petualangan Sinbad

Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit,

sehingga hidupnya tergolong miskin.

Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan.
Sambil istirahat, ia pun bernyanyi.
"Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan."
Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.

"Apakah namamu Sinbad ?", kata tuan rumah.

"Benar Tuan". jawab sinbad

"Namaku juga Sinbad", kata sang saudagar.

Ia pun mulai bercerita,
"Dulu aku seorang pelaut.
"Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga buruk,
orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja.
Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut.
Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya."

"Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal.
Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang.
Mereka membakar daging dan ikan."

"Tiba-tiba , permukaan tanah bergoyang.
Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut.
Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus.
Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau.
Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar." cerita sinbad sang pimilik rumah dengan seru nya.

"Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam.
Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut.
Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan."

"Aku haus, disana ada pohon kelapa.
Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya.
Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar.
Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan sayap yang mengerikan.
Ternyata, seekor burung naga yang amat besar."

"Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya.
aku lalu menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badan ku di kaki burung naga dengan kain yg ku miliki.
karena pikir ku, Kalau burung naga itu bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal."

"Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan.
Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan.
Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang.
aku segera melepas ikatan kain di kaki burung itu dan bersembunyi di balik batu.
Sekarang aku berada di dasar jurang.
aku tertegun, melihat disekeliling ku terdapat banyak berlian." sinbad melanjutkan ceritanya.

"Pada saat itu, "Bruk" ada sesuatu yang jatuh.
Ternyata gundukan daging yang besar.
Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar.
Untuk mengambil berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel didaging

itu."

"aku lalu mempunyai ide.
aku segera mengikatkan diri ke gundukan daging.
Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging dimana aku mengikat diriku, lalu terbang dari dasar jurang."

"Tiba-tiba, "Klang! Klang!
Terdengar suara gong dan suling yang bergema.
Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi.
Orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, mereka terkejut ketika melihatku didaging tersebut."

"aku lalu menceritakan semua kejadian yang ku alami.
Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkanku ke pelabuhan untuk kembali ke negaraku"

"aku lalu menjual berlian yang ku dapat dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak.
aku berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan.
hingga suatu hari, kapal ku dirampok oleh para perompak."

"aku Kemudian dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah."

"Apakah kau bisa memanah?" Tanya pemburu gajah kepada ku.

Sang pemburu memberikan ku busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas.

"Ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu". perintah pemburu gajah
"Baik tuan," jawab ku ketakutan.

Esok pagi, datang gerombolan gajah.
Saat itu pemimpin gajah melihat diriku dan langsung menyerang pohon yang ku naiki.
aku jatuh tepat di depan gajah.
Gajah itu kemudian menggulung badanku dengan belalainya yang panjang."

"aku kira aku pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah.
Ternyata, gajah itu membawa ku dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu.
Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar.
Dengan membawa ku, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua."

"Ku..kuburan gajah!" teriak ku terperanjat.

"Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah.
Pemimpin gajah berkata,"kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami."
aku yg memang tidak ingin menjadi pemburu gajah pun berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ku. "

"aku lalu pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuan ku dengan syarat tuan ku tidak akan membunuh gajah lagi.
Tuan ku lalu berjanji dan kemudian memberikan aku uang."

"Sampai disini dulu ceritaku", ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya kepada sinbad sang kuli.

"Aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu.
Jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda," lanjut sinbad sang saudagar.

Friday, July 19, 2013

Petualangan Tom Sawyer

"Petualangan Tom Sawyer" adalah cerita yang diangkat dari kisah di Mississipi, Amerika. Menceritakan tentang pemuda nakal, bernama Tom dan sahabatnya, Huck.





Tom Sawyer adalah seorang anak laki-laki yang sangat menyukai petualangan.

Pada suatu malam ia keluar rumah dan bersama temannya yang bernama Huck pergi ke tempat pemakaman. "Hei, Huck! Kalau kita membawa kucing yang mati dan menguburnya, katanya kutil kita bisa diambil. " kata Tom.

"Benar. Serahkan saja padaku! Masa'sih begitu saja takut. " jawab Huck.

" Hei , tunggu! Ada orang yang datang!

Tom dan Huck segera bersembunyi.

"Bukankah itu dokter dan Kakek Peter? Dan itu si Indian Joe..."

Terlihat Dokter dan Kakek Petter mulai bertengkar karena masalah uang.
Untuk mendapatkan mayat, Dokter harus melakukan penggaliannya berdua dengan Kakek Petter.
Namun Kakek Petter malah menaikkan harga.
Dokter menjadi marah dan menolak harga yang diminta Kakek Petter.
Mereka pun akhirnya bertengkar.
Kakek Petter dipukul oleh Dokter hingga terjatuh.
Setelah itu, si Indian Joe memungut pisau yang dibawa Kakek Petter dan melompat menyerang Dokter.

Brukk!

Si Indian Joe membunuh Dokter, lalu pergi membawa lari uang Dokter.

Keesokan harinya..
Warga menemukan Dokter meninggal dunia di pemakaman itu, dan orang-orang kota mulai berkumpul.
"Ini adalah pisau Kakek Petter. Jadi, Kakek yang membunuh Dokter.

"A... aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas..." kata Kakek Petter
"Apa!? Aku telah melihat Kakek Petter membunuh Dokter." kata salah satu warga
" Memang benar, pembunuhnya adalah Kakek Petter." warga lain mulai berseru dan menuduh Kakek Petter lah yg telah membunuh Dokter.

Kemudian Kakek Petter ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

"Wah... padahal pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe." Kata Tom
"Tetapi, kalau kita mengatakan hal itu, si Indian Joe akan balas dendam dan membunuh kita..." sambung Huck.
lalu mereka pun memutuskan untuk diam dan pergi dari kerumunan tersebut.

Beberapa hari telah berlalu, dan semua orang telah melupakan kejadian itu.


Pada suatu hari, Tom bertengkar dengan Becky, gadis yang disukainya di sekolah.
"Apa-apaan. Aku benci sama Tom." teriak Becky

Tom yang dimarahi oleh Becky merasa patah hati.
Lalu temannya yang bernama Joe berkata, "Baik di rumah maupun di sekolah aku sudah tak diperlukan. Tom, kita melarikan diri saja, yuk!"

Tom setuju lalu mereka pun mengajak Huck.
Mereka lalu memutuskan untuk hidup di sebuah pulau di tengah-tengah sungai.

"Yahooo! Kalau begini, kita seperti bajak laut, ya!"
"Kita tak perlu pergi ke sekolah."
Ketiganya menyeberangi sungai dengan rakit yang dibuatnya, dan mereka seharian bermain.
Ketika mulai lapar, mereka pun makan telur goreng dan apel.

Keesokan harinya ketika mereka sedang bermain, tiba tiba....

duaaar!

Air sungai menyembur ke atas.
"Oh, itu adalah isyarat dari seseorang yang sedang mencari orang yang tenggelam."

Orang-orang kota mengira Tom dan Joe serta Huck tenggelam di sungai, lalu mereka pun datang untuk mencari.

"Mungkin saat ini Bibi Polly sedang mengkhawatirkanku." pikir Tom.

Di tengah malam Tom berenang menyeberangi sungai, kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan.
Ketika Tom mengintip dari jendela, dilihatnya Bibi Polly dan Ibu Joe sedang menangis.

"Semuanya meninggal dunia, ya.." kalimat tersebut terdengar oleh Tom.

Kemudian Tom kembali ke pulau dan menceritakan hal itu pada Huck dan Joe.
Mereka sangat terkejut.
Akhirnya, mereka sepakat untuk pulang keesokan hari nya, tepat pada hari upacara pemakaman mereka.

Orang orang tentu saja terkejut dan senang melihat mereka ber 3 selamat dan telah kembali ke kota.

"Wah, Tom! Kamu pulang, ya." teriak Bibi Polly yg lalu langsung memeluk Tom.
"Joe, syukurlah kamu pulang dengan selamat." ibu Joe pun merasa sangat lega dan senang.
Semuanya gembira atas kepulangan mereka.

Beberapa hari kemudian, pengadilan Kakek Petter dimulai.
Di pengadilan Kakek Petter ditetapkan sebagai pembunuh, dan ia akan dihukum mati.

Tom dan Huck merasa terkejut dan tak tega, mereka lalu memutuskan Untuk membebaskan Kakek Petter.
Tom memberanikan diri menjadi saksi.
"Pembunuh yang sebenarnya adalah si Indian Joe itu."
"Kami telah melihat kejadian yang sesungguhnya." teriak Tom

Si Indian Joe yang mendengar hal ini terkejut dan segera melompat dari jendela.

Praaang!

Ia melarikan diri.

Kakek Petter merasa sangat gembira karena jiwanya tertolong.
"Tom, terima kasih banyak."

Begitu pengadilan berakhir, kota kembali pada kehidupannya semula.

Pada suatu hari Huck dan Tom pergi ke sebuah rumah yang tak berpenghuni.
Ketika keduanya sedang mencari sesuatu di tingkat dua, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah.

"Ooh! Si Indian Joe bersama sahabatnya, si pencuri!" kata Tom

Para pencuri itu mulai menggali lantai. Dan...
Criing!
Mereka mengeluarkan kotak emas dari dalam lantai tersebut.

"Hyaaa! Harta karun yang banyak! teriak Indian Joe kegirangan.
"Baiklah, kita pindahkan persembunyiannya lalu kita beri tanda dengan kayu ini." kata Indian Joe memerintah pencuri tersebut.

Si Indian Joe lalu mulai naik ke tingkat dua, untuk memeriksa.


"Bagaimana, nih? Kalau ketahuan, pasti kita dibunuh olehnya..." bisik Huck.

Praaak!
Gedebug!

Karena papan tangganya sudah lapuk, si Indian Joe terjatuh di tengah-tengah tangga.
Tom dan Huck pun merasa lega dan mereka pun kemudian lari dari jendela di tingkat dua.

Beberapa hari telah berlalu.

Pada suatu hari Huck mengikuti Indian Joe dan temannya sendirian.
"Apakah mereka mau menyembunyikan emasnya?" pikir Huck.

Ternyata, Indian Joe dan temannya bermaksud menyerang rumah Nyonya Douglas.
"Gawat! Aku harus cepat-cepat memberitahukannya pada seseorang!" Huck bergegas pergi ke rumah Nyonya Douglas.

Mendengar pemberitahuan Huck, orang yang rumahnya bertetangga dengan Nyonya Douglas segera membawa senapan dan menembak para pencuri itu.

Door! Door!
Indian Joe dan temannya sangat terkejut, lalu mereka melarikan diri.

"Sudah tidak apa-apa, kok!!" kata tetangga Nyonya Douglas
"Ini semua berkat Huck. Terima kasih atas pemberitahuannya, ya!" sambung Nyonya Douglas.

Di lain pihak..
Tom, Becky, dan teman-temannya pergi berpiknik bersama-sama.
Tetapi, Tom dan Becky tersesat di sebuah goa.
Mereka tak tahu jalan pulang.

Tiba-tiba, muncul asap membumbung mengelilingi keduanya.
"Kyaaa! Tom, aku takut!" teriak Becky.
"Oh, ada seseorang! Sssttt.." bisik Tom.

Tiba-tiba muncullah sosok Indian Joe di depan Tom dan Becky.
Saking terkejutnya, sampai-sampai keduanya sulit untuk benafas.

"Waaaw! Ayo, lari!" kali ini Tom yg berteriak.

Dengan cepat, Tom dan Becky berlari hingga keluar dari dalam goa.

Akhirnya mereka pun pulang.
Bibi Polly tentu saja khawatir melihat Tom dan Becky terlihat begitu ketakutan.
setelah Tom menceritakan apa yang terjadi, Bibi Polly merasa sangat lega karena kedua anak itu telah pulang dengan selamat.

Lalu Tom mengantarkan Becky pulang dan menceritakan tentang goa dan Indian Joe tadi.
Ayah Becky berkata, "Tom, karena goa itu berbahaya, sebaiknya ditutup saja."

"Ya... tetapi di situ ada Indian Joe." jawab Tom.

Tom dan ayah Becky lalu memanggil orang-orang dan bersama-sama pergi menuju goa tersebut.
Ketika semuanya sampai di sana, Indian Joe ternyata jatuh pingsan di pintu masuk goa.


Dia pasti tersesat dan kelelahan sehingga pingsan." kata Tom.

Kemudian mereka menutup pintu masuk goa, dan menjebloskan Indian Joe ke dalam penjara.

Beberapa hari kemudian..
Tom dan Huck yg merasa penasaran dengan apa yg dilakukan Indian Joe di goa tersebut pun memutuskan masuk ke dalam goa dengan melewati jalan rahasia.
Di dalam, Tom dan Huck melihat sebuah batu yg telah diberi tanda, mereka pun menggali batu tersebut.
Ternyata Indian Joe menyembunyikan emasnya di balik batu.

Tom dan Huck pun mendapatkan emas yang disembunyikan Indian Joe dan pencuri itu.

"Horee dengan harta ini, kita akan menjadi kaya!" teriak mereka berdua.

Saat Tom dan Huck pulang, Nyonya Douglas yang telah ditolong oleh Huck mengadakan pesta untuk menyambut mereka.

FIN.

Edited by: KiD

Sunday, April 14, 2013

Saudagar Jerami



Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan". "Tolonglah aku agar hidup senang". Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi bercahaya, lalu muncul suara. "Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari. Itu akan membuatmu bahagia."

Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil, Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang menggenggam sebatang jerami. "Oh, jadi yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?", pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting. "Wah menarik ya", ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal. Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan lalat Taro. "Aku ingin mainan itu." Seorang pengawal datang menghampiri Taro dan meminta mainan itu. "Silakan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.

"Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati. Ketika meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat kehausan. "Maaf, adakah tempat mata air di dekat sini ?", tanya wanita tadi. "Ada dikuil, tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. "Terima kasih, berkat engkau, aku menjadi sehat dan segar kembali". Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. "Aduh, padahal kita sedang terburu-buru." Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu. Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2 gulung kain yang tersisa.

Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.

Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro. Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,"Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar", kata Taro.

"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan". Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak.

Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.

Sunday, April 7, 2013

Tukang Sepatu dan Liliput



Dahulu kala, disebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, “Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.

Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka. “Kasihan sekali gadis itu ! Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu”. Akhirnya mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada gadis kecil itu.

“Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita”, kata si kakek. Malam tiba, merekapun tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul liliput-liliput mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke hutan.

Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat. Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari Raya. “Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa”.

Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu mengintip, dan melihat para liliput yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat sepatu. “Wow”, pekik si kakek. “Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para liliput itu”. “Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian”, lanjut si nenek. “Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih”. Kemudian nenek memotongh kain, dan membuatkan baju untuk para liliput itu. Sedangkan kakek tidak tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para liliput. Setelah selesai mereka menjajarkan sepatu dan baju para liliput di ruang kerjanya. Mereka juga menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.
Saat tengah malam, para liliput berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. “Wow, pakaian yang indah !”. Mereka segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek. Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari berikutnya para liliput tidak pernah datang kembali.

Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.

Sunday, March 31, 2013

Bawang Merah dan Bawang Putih



Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.

“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.

Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.